Ketika Penglaju Mingguan Jatuh Hati kepada Joglosemar
Jumat sore ini, saatnya saya kembali. Kembali ke domisili.
Setia menanti di agen yang juga jualan kopi. Ada juga abon sapi.
Bersama Joglosemar, di sini....
Sudah hampir empat bulan saya alih tugas ke Banjarnegara. Sebelumnya, saya bekerja di Wates, Kulon Progo, kurang lebih 3 sampai 4 jam perjalanan ke Banjarnegara. Perubahan tempat kerja ini tentunya membawa beberapa konsekuensi. Mulai dari pekerjaan baru (tapi lama), teman kantor baru, lingkungan baru, tempat makan baru, tentunya juga urusan transportasi bagaimana caranya pulang ke homebase, karena saya adalah penglaju mingguan.
Di sini, Banjarnegara, saya tetap memilih menjadi penglaju mingguan alias PJKA: pergi Jumat, kembali Ahad. Bukan karena ingin mengikuti jejak romantisme para pejuang jarak jauh. Bukan pula ingin menguji kesetiaan sebagai pengguna kendaraan umum. Semuanya tentu karena ada alasan dan pertimbangan yang mungkin tidak perlu saya ungkapkan di sini. Namun pastinya, karena ada rumah yang harus saya singgahi setiap akhir pekan.
Ternyata, menjadi penglaju mingguan bukan perkara sederhana. Ada banyak hal yang harus dipikirkan sebelum perjalanan dimulai. Mulai dari jadwal keberangkatan, ketersediaan angkutan umum, lama perjalanan, sampai pertanyaan klasik: mau pulang naik apa?
Dulu, waktu masih bekerja di Wates, kereta api menjadi andalan saya. Jadwalnya jelas, tempat duduknya pasti, dan perjalanan bisa direncanakan jauh-jauh hari. Meskipun seringnya saya beli dadakan supaya dapat diskonan. Ya, beli dadakan dua jam sebelum keberangkatan ada harga khusus untuk trip Wates – Purwokerto. Namun, perubahan tujuan dan pola perjalanan karena alih tugas, membuat saya harus menyesuaikan diri. Kini, bus antarkota dalam provinsi menjadi alternatif yang lebih masuk akal. Karena di sini, jalur kereta api hanya tinggal kenangan. Sekian kali sempat menjadi pembahasan, akhirnya hilang ditelan wacana tak berkesudahan.
Namun di sini masalahnya. Memilih bus antar kota dalam provinsi, seperti Cebong Jaya, Teguh, Virgo, dan yang lainnya, tidak sesederhana berdiri di pinggir jalan, melambaikan tangan, lalu berharap ada kursi kosong. Sebagai penglaju mingguan, saya membutuhkan moda transportasi yang jadwalnya jelas, tempat duduknya terjamin, dan tidak membuat perjalanan pulang terasa seperti mengikuti undian karena adanya ketidakpastian.
Dari hasil berselancar di dunia maya, saya akhirnya menemukan dan terpancing mencoba Joglosemar. Awalnya, biasa saja. Sekadar mencari alternatif perjalanan. Tidak ada niat khusus, apalagi firasat akan menemukan moda transportasi yang membuat saya ingin menggunakannya lagi. Namun, setelah mencoba, ada beberapa hal yang membuat saya mulai terpikat.
Jatuh hati ternyata dapat dimulai dari kemudahan. Ya. Hal pertama yang membuat saya tertarik pada Joglosemar adalah kemudahan memesan tiket secara online. Tidak perlu datang ke agen hanya untuk bertanya apakah masih ada kursi. Tidak perlu pula menelepon CS atau agen untuk mendapat kepastian jawaban. Cukup membuka layanan pemesanan, memilih perjalanan, lalu menyelesaikan transaksi. Lalu bayar dengan aplikasi perbankan mobile. Tiket masuk email. Selesai. Urusan tiket menjadi lebih praktis dan tidak banyak menyita waktu.
Bagi sebagian orang, memesan tiket secara online mungkin sudah biasa. Namun, bagi penglaju mingguan seperti saya yang harus mengatur perjalanan rutin, kemudahan kecil semacam ini cukup berarti. Waktu dan tenaga bisa dihemat untuk urusan lain yang lebih penting. Misalnya, menyelesaikan pekerjaan sebelum akhir pekan atau sekadar memastikan barang bawaan tidak tertinggal.
Kemudahan berikutnya adalah informasi jadwal dan rute yang dapat dilihat dan dipantau secara online. Saya bisa merencanakan perjalanan tanpa harus menebak-nebak kapan kendaraan berangkat dan dari mana harus naik.
Bagi saya, kepastian informasi adalah bagian penting dari kenyamanan. Sebab, perjalanan bukan hanya soal berpindah dari satu kota ke kota lain. Ada waktu yang harus diatur, ada agenda yang menunggu, dan ada keluarga yang berharap saya tiba sesuai rencana.
Jangan sampai perjalanan pulang yang seharusnya menyenangkan justru dimulai dengan kecemasan: busnya sudah berangkat atau belum, ya? Atau, busnya ada atau tidak ya, karena saya pulangnya sudah terlalu sore…
Kursi terbatas, kenyamanan makin meningkat. Hal lain yang membuat saya nyaman adalah jumlah kursi yang terbatas. Tidak ada penumpang berdiri atau tanpa kursi. Konsekuensinya, kapasitas penumpang lebih terkendali dan tidak ada penumpang berdesakan atau saling berebutan kursi.
Ditambah pendingin udara yang membuat perjalanan lebih nyaman, suasana di dalam kendaraan terasa lebih bersahabat. Apalagi cuaca di beberapa bulan ini cenderung panas menyengat karena masih dibalut kemarau. Setelah sepekan bekerja, tubuh dan pikiran tentunya membutuhkan sedikit ruang untuk beristirahat. Menikmati kenyamanan perjalanan mungkin salah satu sarananya.
Saya juga mengapresiasi cara pengemudi Joglosemar membawa kendaraan. Setidaknya dari pengalaman perjalanan saya, bus berjalan dengan cukup tertib dan tidak terasa ugal-ugalan. Bagi penumpang seperti saya, ini bukan perkara sepele. Ada kalanya saya hanya ingin duduk tenang, melihat pemandangan dari balik jendela, atau memejamkan mata sejenak. Tidak perlu ikut menahan napas setiap kali kendaraan menyalip, seolah-olah lagi menonton film “Fast n Fuorious” sehingga sulit menutup mata.
Tentu saja, perilaku pengemudi bisa berbeda dalam setiap perjalanan. Namun, pengalaman berkendara yang tertib akan memberikan rasa aman yang sulit ditukar dengan apa pun. Urusan naik dan turun penumpang pun terasa lebih teratur. Penumpang dijemput atau naik melalui agen maupun titik penjemputan virtual yang telah ditentukan. Dengan pola seperti ini, perjalanan terasa lebih terencana. Tidak setiap beberapa menit kendaraan berhenti karena ada orang yang melambaikan tangan dari pinggir jalan. Bagi saya, keteraturan semacam ini membantu menjaga waktu tempuh sekaligus membuat perjalanan terasa lebih nyaman.
Perhatian kecil yang terasa besar.
Ada satu hal yang mungkin terlihat sederhana, tetapi justru membekas: minuman hangat di pool keberangkatan. Entah mengapa, segelas minuman hangat sebelum perjalanan terasa seperti sambutan kecil. Saya belum naik kendaraan, tetapi sudah diperlakukan sebagai tamu yang hendak memulai perjalanan dari kota P.
Setiap calon penumpang bus, disediakan pula makanan ringan walaupun hanya terdiri 2 butir bakpia kering, sebungkus kecil kacang koro dan air putih dalam kemasan gelas plastik. Bukan hidangan mewah memang. Namun, perhatian kecil ini menghadirkan kesan bahwa kenyamanan penumpang tidak hanya dipikirkan ketika kendaraan mulai melaju. Ada upaya membuat perjalanan terasa lebih menyenangkan sejak awal.
Barangkali memang begitu cara sebuah layanan memenangkan hati pelanggan. Bukan selalu melalui fasilitas yang mahal atau promosi besar-besaran. Tapi lewat hal-hal kecil yang justru bisa membuat orang merasa diperhatikan. Segelas minuman hangat mungkin tidak mengubah jarak perjalanan. Makanan ringan juga tidak membuat jalanan lebih mulus. Tetapi keduanya bisa jadi dapat mengubah suasana hati seseorang sebelum menempuh perjalanan panjang. Dan bagi penglaju mingguan seperti saya, suasana hati yang baik adalah bekal yang berharga untuk menjalankan aktivitas berikutnya.
Lanjut... gasss...
Ada dua hal lain yang membuat saya semakin nyaman: layanan customer service yang sigap dan fasilitas pelacakan posisi kendaraan.
Bagi pengguna transportasi, informasi adalah sumber ketenangan. Ketika ada pertanyaan atau kendala, tentunya saya ingin mendapatkan jawaban yang jelas. Saya akui, layanan customer service Joglosemar cukup tanggap merespon pertanyaan saya ketika membutuhkan informasi. Respons yang cepat mungkin terlihat sederhana bagi penyedia layanan, tetapi sangat berarti bagi orang yang sedang merencanakan perjalanan dan butuh kepastian.
Hal serupa berlaku untuk pelacakan posisi kendaraan. Mengetahui posisi bus membantu saya memperkirakan kedatangan dan mengatur waktu kapan saya harus berada di titik penjemputan penumpang. Saya tidak perlu lagi bertanya berkali kali, busnya sudah sampai di mana. Bagi saya, fitur semacam ini bukan sekadar pemanis teknologi. Ia menjawab kebutuhan yang nyata: mengurangi ketidakpastian.
Dalam perjalanan, kadang-kadang yang membuat gelisah adalah bukan jauhnya jarak, melainkan tidak adanya informasi. Menunggu kendaraan selama beberapa menit mungkin tidak masalah jika saya tahu apa yang sedang terjadi. Sebaliknya, menunggu sebentar saja bisa terasa lama jika semuanya serba tidak jelas. Teknologi akhirnya terasa bermanfaat bukan karena terlihat canggih, melainkan karena membuat hidup penggunanya sedikit lebih mudah.
Ketika harga bukan lagi segalanya.
Tentu saja, menggunakan transportasi umum tetap berkaitan dengan urusan biaya. Sebagai penglaju mingguan, saya tidak bisa berpura-pura bahwa harga tiket tidak penting. Jika dikumpulkan dalam hitungan bulan, ongkos perjalanan tentu menjadi salah satu pos pengeluaran yang perlu diperhitungkan. Namun, pengalaman menggunakan Joglosemar membuat saya berpikir bahwa harga bukan satu-satunya ukuran. Ada nilai lain yang ikut dibayar: kepastian tempat duduk, kemudahan pemesanan, kejelasan jadwal, kenyamanan, dan rasa aman selama perjalanan.
Transportasi yang murah belum tentu menjadi pilihan paling hemat jika saya harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk mencari kendaraan, menunggu tanpa kepastian, atau menghadapi perjalanan yang membuat badan semakin lelah. Apalagi jika setelah tiba, saya masih harus menjalani agenda lain.
Sebaliknya, ketika sebuah layanan memberikan kenyamanan dan rasa aman, maka harga yang sedikit lebih tinggi bisa terasa masuk akal. Bukan karena saya sedang kelebihan uang, melainkan karena saya mulai memahami bahwa kenyamanan juga memiliki nilai.
Tentu, semuanya tetap harus disesuaikan dengan kemampuan kantong masing-masing. Tidak semua orang memiliki pertimbangan dan kebutuhan yang sama. Bagi saya, yang harus menempuh perjalanan pulang-pergi hampir setiap pekan, kepastian dan kenyamanan menjadi pertimbangan yang utama. Bukan sekadar berpindah kota. Tiga bulan menjadi penglaju mingguan mengajarkan saya bahwa perjalanan pulang bukan sekadar urusan berpindah tempat. Ada waktu, tenaga, biaya, dan harapan yang ikut dibawa. Prinsipnya, saya ingin berangkat tanpa kerepotan, menempuh perjalanan dengan tenang, lalu tiba tanpa harus merasa seperti baru saja menyelesaikan lomba ketahanan fisik dan mental.
Joglosemar, setidaknya dari pengalaman saya, menawarkan beberapa hal yang membuat perjalanan terasa lebih sederhana. Pemesanan tiket mudah, jadwal dan rute bisa diperiksa secara online, tempat duduk lebih terkendali, perjalanan cukup nyaman, dan ada perhatian kecil yang membuat penumpang merasa dihargai.
Apakah saya sudah menjadi pelanggan setia? Mungkin belum waktunya membuat pernyataan berlebihan. Perjalanan masih panjang, dan pengalaman tentu bisa berubah. Namun, untuk urusan transportasi, saya mulai memahami mengapa sebuah layanan bisa membuat orang kembali menggunakannya. Bukan semata-mata karena kendaraannya, melainkan karena pengalaman yang menyertainya.
Saya pun mulai percaya bahwa jatuh hati kepada moda transportasi tidak harus dimulai dari sesuatu yang istimewa. Kadang cukup dari tiket yang mudah dipesan, jadwal yang jelas, kursi yang nyaman, pengemudi yang tertib, dan segelas minuman hangat sebelum berangkat.
Bagi orang lain, mungkin itu hal biasa. Bagi seorang penglaju mingguan seperti saya, itu bisa menjadi alasan untuk kembali. Sebab, setelah lima hari bekerja, perjalanan pulang seharusnya tidak menjadi masalah baru yang harus diselesaikan. Dan jika ada layanan yang membuat perjalanan terasa lebih tenang, mengapa tidak memilihnya?
Toh, dalam urusan pulang, yang dicari bukan sekadar sampai tujuan. Saya juga ingin sampai dengan selamat, nyaman, dan masih memiliki cukup tenaga untuk menikmati akhir pekan bersama keluarga.

Komentar
Posting Komentar