Postingan

Tiga Alasan Mengapa Saya Wajib Punya Kendaraan Bermotor Pribadi

Gambar
Di negeri ini, memiliki kendaraan bermotor pribadi sering kali terasa seperti tanda naik kelas -- setidaknya satu tingkat. Ia bukan lagi sekadar alat bantu mobilitas, melainkan sudah menjelma menjadi kebutuhan yang dianggap mendasar, sejajar dengan pangan, sandang, dan papan. Ketika seseorang belum punya kendaraan, pertanyaan yang muncul biasanya bukan “mengapa?”, melainkan “kok bisa?”. Disampaikan dengan nada heran bercampur iba, seolah-olah ada yang kurang dari hidup yang dijalani. Pengalaman saya berbeda dengan di masa lalu. Pada era 1980–1990-an, saat masih duduk di bangku SMP hingga SMA, sepeda adalah andalan saya untuk beraktivitas di dalam kota. Ia juga menjadi teman setia berolahraga bersama dua kawan yang rumahnya tidak berjauhan. Kebiasaan bersepeda itu, kalau jujur, bukan karena kesadaran akan lingkungan atau kesehatan. Alasannya sederhana: soal biaya. Jika jarak yang ditempuh cukup jauh atau rasa malas datang, barulah saya beralih ke angkutan kota. Untuk tujuan yang lebih p...

Bau Sampah Bikin Gundah

Gambar
Setelah sekian lama tutup, warung kopi alias cafe di dekat rumah beroperasi kembali. Awalnya tidak terlalu banyak pelanggan yang datang. Tapi akhir akhir ini terlihat selalu ramai. Wajah wajah anak muda, kemungkinan mahasiswa, hampir selalu memenuhi kursi yang tersedia. Mungkin harganya terjangkau. Mungkin rasanya sesuai selera. Atau tempatnya yang cocok buat kumpul kumpul, rapat, atau sekedar menikmati makanan dan minuman yang tersedia. Mungkin juga karena ada live musiknya. Atau wifinya. Bisa juga karena buka 24 jam non stop. Cocok buat mahasiswa yang dikejar deadline tugas dan gampang ngantuk kalo mengerjakan di kos. Yang pasti, saya belum pernah menikmati makanan atau minuman di tempat itu. Imbasnya, sampah yang semula cukup ditampung box sampah ukuran jumbo, sekarang sudah tidak muat lagi. Akhirnya, di sudut jalan belakang cafe seperti tempat pembuangan sampah sementara. Setiap hari, ada ritual tak tertulis yang harus dilakoni oleh siapa saja yang lewat di jalan itu. Termasu...

Terima Kasih Bapak Yang Baik

Gambar
Beberapa hari lalu,  Jumat pagi Sebelas September, saya menerima kabar duka. Istri paman meninggal dunia. Kabar seperti itu selalu membuat hati terdiam sejenak. Ada rasa kehilangan, meskipun saya mungkin jarang bertemu. Apalagi bagi paman, kehilangan pasangan hidup tentu bukan perkara sederhana. Apalagi setelah sekian puluh tahun mendampingi. Ada rumah yang tiba-tiba terasa lebih sepi, ada rutinitas yang mendadak berubah, dan ada sosok yang biasanya hadir setiap hari, kini tak lagi bisa ditemui. Sayangnya, saya tidak bisa langsung datang melayat. Saat kabar itu datang, saya sedang mendapat penugasan ke luar kota. Baru dua hari kemudian saya punya kesempatan untuk datang. Minggu sore. Kebetulan sekarang saya bertugas di kota ini, Banjarnegara. Saya berangkat sendiri ke rumah paman yang terletak di pinggir timur kota Banjarnegara. Tidak membawa kendaraan bermotor, karena memang tidak ada. Kali ini, transportasi online alias ojol menjadi andalan. Sesampainya di rumah paman, suasana du...

Ojek Pangkalan Yang Tersisih

Gambar
Tidak terasa waktu terus berjalan hingga akhirnya sampailah saya di penghujung Desember tahun 2025. Dan beberapa bulan ke depan berarti saya akan menggenapkan waktu dua tahun bekerja di sini, Wates, Kulon Progo . Sebuah kota yang menjadi ruang hidup bagi saya. Tempat saya terbangun di pagi hari, berangkat kerja, kemudian kembali ke mess yang tidak jauh dari kantor. Wates bukanlah kota besar dengan gedung tinggi, jalanan yang penuh lalu lalang kendaraan dan hiruk pikuk manusia yang ada di dalamnya. Wates hanyalah sebuah kota kecil yang tenang, sederhana, dan berjalan pelan dengan iramanya sendiri. Justru di sinilah saya belajar tentang waktu—tentang bagaimana hidup tidak selalu harus berlari. Dan ini sesuai dengan jiwa saya yang mungkin bukan termasuk tipe petarung hebat dan kuat untuk menaklukan persaingan di rimba kota yang liar. Setiap Jumat malam, saya melakukan perjalanan pulang ke rumah. Karena memang rumah saya bersama keluarga bukan di Wates. Home base saya ada di kota kecil jug...

Wates: Aksesnya Gampang, Sepi dan Tenangnya Jadi Idaman

Gambar
Siapa sangka, akhirnya saya terdampar di kota kecil bernama Wates. Kota yang selama ini hanya saya lintasi ketika menuju ke kota Yogyakarta dan sebaliknya, dari arah Purwokerto. Karena SK, akhirnya saya menjalankan aktivitas pekerjaan di kota ini. Dan tanpa terasa, sudah lebih setahun saya menjalani rutinitas pekerjaan di sini.   Wates yang terletak di bagian barat Yogyakarta, menjadi gerbang utama kota Yogyakarta dari arah barat. Dulu, mungkin fasilitas umumnya belum semaju sekarang. Namun, dengan hadirnya berbagai proyek besar dan pengembangan infrastruktur di Kulon Progo, terutama Bandara Internasional Yogyakarta (YIA – Yogyakarta International Airport), Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) dan Jembatan Pandansimo yang menjadi salah satu jembatan terpanjang di pulau Jawa, meskipun sampai dengan saat ini belum dibuka untuk umum. Wates kini punya daya tarik magnetis yang lebih kuat dan tak bisa diabaikan. Sekian lama di Wates, saya sungguh sangat menikmati kesepian dan ketenanga...

Transformasi Kereta Api Yang Membuat Saya "Sedih"

Gambar
Dulu, menjelang tahun 90-an, ketika saya masih duduk di sekolah dasar, menjelajah stasiun dan naik kereta api saat libur sekolah adalah petualangan seru. Dari rumah saya ke stasiun kereta api Purwokerto, sebenarnya tidak terlalu jauh, sekitar dua kilometer saja. Apabila ditempuh menggunakan kendaraan bermotor hanya beberapa menit sudah sampai. Namun waktu itu, kendaraan bermotor masih relatif jarang. Dan saya bersama teman-teman biasa berpetualang ke sana dengan berjalan kaki atau paling banter dengan naik sepeda.  Sebelum sampai ke stasiun kereta api, perjalanan menuju ke sana bersama teman-teman, menjadi cerita petualangan tersendiri. Waktu itu tentunya belum ada hape dengan akses internet. Apalagi yang juga dilengkapi dengan peta digital. Jadi, untuk sampai ke stasiun, kami memberanikan diri untuk bertanya-tanya kepada orang-orang baik yang kami temui di sepanjang perjalanan.  Sesampainya di stasiun kereta api, untuk masuk ke dalamnya bukanlah hal yang sulit. Tentu kami tid...

Curhat Istri Tetangga

Gambar
Malam itu sebelum tidur, saya dan istri mengobrol tentang berbagai hal. Tentang kondisi cuaca di tempat tinggal kami yang mulai sering turun hujan. Tentang rumput liar yang mulai tumbuh kegirangan dan banyak bermunculan di sela-sela batu pada halaman rumah. Tentang kegiatan anak kami yang masih sekolah, juga yang sedang kuliah di luar kota. Juga tentang keadaan keponakan yang sedang menderita sakit. Dan tentunya pekerjaan istri yang semakin menumpuk menjelang akhir tahun 2024. Obrolan lainnya adalah kisah istri tetangga yang bekerja sebagai PNS. Eh, ini ghibah bukan  sih? Malam itu, istri saya menceritakan kisah istri tetangga yang cukup mengusik hatinya. Istri tetangga curhat kepadanya bahwa dia sering diledek oleh rekan kantornya karena kesulitan melafalkan huruf “F” dan “V”. Harap maklum, istri tetangga kami berasal dari Sunda. Sebagai orang Sunda, sepertinya memang terdapat kesulitan dalam mengucapkan huruf-huruf tersebut. Namun, ironisnya justru rekan kerjanya menjadikan kekur...