Wates: Aksesnya Gampang, Sepi dan Tenangnya Jadi Idaman


Siapa sangka, akhirnya saya terdampar di kota kecil bernama Wates. Kota yang selama ini hanya saya lintasi ketika menuju ke kota Yogyakarta dan sebaliknya, dari arah Purwokerto. Karena SK, akhirnya saya menjalankan aktivitas pekerjaan di kota ini. Dan tanpa terasa, sudah lebih setahun saya menjalani rutinitas pekerjaan di sini.  

Wates yang terletak di bagian barat Yogyakarta, menjadi gerbang utama kota Yogyakarta dari arah barat. Dulu, mungkin fasilitas umumnya belum semaju sekarang. Namun, dengan hadirnya berbagai proyek besar dan pengembangan infrastruktur di Kulon Progo, terutama Bandara Internasional Yogyakarta (YIA – Yogyakarta International Airport), Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) dan Jembatan Pandansimo yang menjadi salah satu jembatan terpanjang di pulau Jawa, meskipun sampai dengan saat ini belum dibuka untuk umum. Wates kini punya daya tarik magnetis yang lebih kuat dan tak bisa diabaikan.

Sekian lama di Wates, saya sungguh sangat menikmati kesepian dan ketenangan kotanya. Kota yang nyaman buat penggowes sepeda seperti saya. Hari gini gowes sepeda? Sebenarnya dari jaman SMP sampai SMA, ke mana-mana saya selalu naik sepeda. Sampai akhirnya kebiasaan di masa lalu bangkit kembali setelah terpendam sekian lama. Asalkan tidak terlalu jauh, sepeda saya si “Pinky” selalu menemani.  

Di kota ini juga pada akhirnya saya menjadi penglaju mingguan, pulang Jumat kembali Ahad alias PJKA. Pulang ke Purwokerto menggunakan kereta api. Kembalinya ke Wates menggunakan bis antar kota. Namun beberapa bulan terakhir akhirnya saya menggunakan kereta api karena lebih cepat dan tepat waktu. Bagi penglaju mingguan seperti saya, kemudahan akses adalah kunci. Saya bisa pulang Jumat sore atau malam dan kembali pada Ahad malam atau bahkan Senin pagi. Dengan adanya jadwal beberapa kereta yang berhenti di Wates dan harga tiket yang relatif terjangkau karena ada harga khusus ketika dibeli dadakan, menjadikan Wates sebagai kota yang ideal buat saya.

Selain dilewati jalur kereta api, Wates juga dilintasi jalan nasional. Ketika kehabisan tiket kereta, menjadikannya masih terdapat opsi menggunakan moda transportasi lainnya. Menyenangkan bukan?

Untuk suasana kotanya, Wates menawarkan situasi yang jauh lebih sepi dan tenang dibandingkan kota besar. Bagi mereka yang terbiasa dengan ritme hidup di kota besar minimal sekelas ibu kota provinsi, tentu akan sangat berbeda jauh. Bahkan apabila dibandingkan dengan kota Purwokerto, Wates jauh terasa lebih santai. Untuk penyuka kehidupan slow living seperti saya, Wates menyediakan hal itu. Tidak ada kemacetan parah, polusi udara rendah, dan masyarakatnya ramah.

Lingkungan yang nyaman ini sangat penting bagi penglaju mingguan. Setelah hari kerja yang padat, kita bisa beristirahat dengan tenang tanpa gangguan hiruk-pikuk kota besar. Masih banyaknya pepohonan, sawah dan ladang, burung berkicau dan beterbangan di sekitar kota, memberikan nuansa seperti “kembali pulang ke kampung” meski sedang berada di kota. Wates, menjadi salah satu kota idaman buat saya. Apabila ada tabungan yang lumayan, bisa jadi Wates menjadi salah satu pilihan untuk membangun rumah dan kehidupan dengan suasana yang tenang.

Oh, iya. Salah satu alasan lagi yang membuat Wates menjadi idaman adalah biaya hidup yang relatif rendah dibandingkan kota besar seperti Yogyakarta atau kota besar lainnya. Harga makanan di warung lokal dan kebutuhan sehari-hari lainnya masih relatif terjangkau untuk pegawai biasa seperti saya. Bahkan mall pun tidak ada sehingga mengurangi hasrat cuci mata yang akhirnya berujung pada belanja.

Lantas, bagaimana menurut Anda?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Iseng-Iseng ke Cianjur Naik Kereta Api...

Curhat Istri Tetangga

Ojek Pangkalan Yang Tersisih