Ojek Pangkalan Yang Tersisih


Tidak terasa waktu terus berjalan hingga akhirnya sampailah saya di penghujung Desember tahun 2025. Dan beberapa bulan ke depan berarti saya akan menggenapkan waktu dua tahun bekerja di sini,
Wates, Kulon Progo. Sebuah kota yang menjadi ruang hidup bagi saya. Tempat saya terbangun di pagi hari, berangkat kerja, kemudian kembali ke mess yang tidak jauh dari kantor. Wates bukanlah kota besar dengan gedung tinggi, jalanan yang penuh lalu lalang kendaraan dan hiruk pikuk manusia yang ada di dalamnya. Wates hanyalah sebuah kota kecil yang tenang, sederhana, dan berjalan pelan dengan iramanya sendiri. Justru di sinilah saya belajar tentang waktu—tentang bagaimana hidup tidak selalu harus berlari. Dan ini sesuai dengan jiwa saya yang mungkin bukan termasuk tipe petarung hebat dan kuat untuk menaklukan persaingan di rimba kota yang liar.

Setiap Jumat malam, saya melakukan perjalanan pulang ke rumah. Karena memang rumah saya bersama keluarga bukan di Wates. Home base saya ada di kota kecil juga, tapi sekarang semakin riuh rendah, yang berada di lereng selatan gunung Slamet. Di sanalah istri dan anak saya terkecil berada. Sedangkan anak terbesar sedang berusaha menambah level pendidikan setelah SMA di kota yang konon katanya sering disebut kota pelajar, dulu. Entah sekarang. Kota kecil tempat saya pulang bukan hanya karena ikatan dengan keluarga, tetapi juga secara emosional karena saya dibesarkan di sana. Mulai SD, SMP, dan akhirnya sampai lulus SMA.

Karena jarak yang tidak memungkinkan untuk pulang-pergi setiap hari, maka saya memilih menjalani hidup sebagai penglaju mingguan. Sebuah pilihan yang tidak sepenuhnya mudah, tetapi terasa paling masuk akal. Setiap Minggu malam saya berangkat, dan setiap Jumat pula saya kembali ke rumah. Kereta api menjadi moda transportasi utama yang setia menemani perjalanan itu. Di dalam gerbong kereta, saya sering merenung - tentang kehidupan, pekerjaan, keluarga, tentang apa saja.

Biasanya, setiap hari Minggu malam saya kembali ke Wates. Suasana malam hari di stasiun kereta api Wates dan halamannya terlihat hampir selalu sama. Stasiun tidak terlalu ramai, suara pengumuman terdengar jelas, dan langkah kaki para penumpang melintas pelan. Ada rasa berat saat meninggalkan rumah, meski saya tahu ini bukan perpisahan. Tapi tetap saja, setiap genggaman tangan akan menyisakan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada rindu yang sengaja ditinggal agar bisa diperjuangkan lagi minggu depan.

Sesampainya di stasiun kereta Wates, perjalanan saya belum benar-benar usai. Dari stasiun menuju mess kantor, tidaklah terlalu jauh. Saya biasanya melanjutkan perjalanan dengan ojek motor. Kadang ojek daring. Kadang ojek pangkalan. Ojek menjadi pilihan paling realistis: cepat, fleksibel, mudah dan biasanya tidak perlu menunggu lama.

Awalnya saya cenderung menggunakan ojek daring. Namun ada masanya ketika saya kemudian menjadi pelanggan ojek pangkalan dengan seorang bapak tua. Umur yang dapat diterka dari rambutnya yang mulai memutih – seperti saya – dan kulit di tangan yang terlihat mulai keriput. Setiap kali saya datang, beliau selalu menyapa dengan senyum sederhana. Tidak banyak bicara, tetapi gesturnya ramah. Ada kesan tulus yang membuat saya merasa nyaman. Mungkin karena faktor usia, mungkin karena rasa iba, atau mungkin karena kebiasaan yang pelan-pelan terbentuk, saya beberapa kali menggunakan jasanya.

Hubungan kami tidak pernah formal. Tidak ada janji khusus, tidak ada kesepakatan tertulis. Hanya di awal pertemuan, terjadi tawar menawar kesepakatan harga. Selanjutnya semuanya mengalir begitu saja. Saya naik motor beliau, motor yang juga mulai menua. Dari modelnya seperti motor keluaran lama, dengan logonya tertulis Honda Astrea. Sesampai di tujuan, saya membayar ongkos, lalu berpisah. Namun, dalam pengulangan itulah muncul semacam ikatan kecil yang tidak pernah diucapkan. Saya tahu di mana beliau biasa mangkal, dan beliau tahu kapan saya biasanya datang. Kadang beliau sudah menunggu di depan pintu keluar. Kemudian kami saling menyapa dengan anggukan saja, tanpa kata.

Di balik keramahan itu, ada satu hal yang sejak awal sebenarnya agak mengusik perasaan saya. Terutama dari motor tuanya. Ya, motor terasa miring ketika memikul beban kami berdua. Mungkin karena rangka yang sudah renta. Belum lagi lampu depan dan belakang yang redup. Apakah ini bisa terlihat oleh pengendara lain. Ataukah kami bisa melihat jalanan di depan yang terlihat gelap. Ditambah lagi kondisi pengereman yang dalam dan membuat laju motor agak lama berhenti. Membuat saya khawatir apabila kami harus berhenti secara tiba-tiba.  

Belum lagi cara bapak tua itu mengendarai motor cenderung kurang hati-hati. Gas kadang ditarik mendadak, rem kadang diinjak terlambat. Lampu merah pun pernah dilalui dengan percaya diri. Di keramaian jalan dengan penuh kendarang besar berlalu lalang, beliau berani memotong jalan. Awalnya saya mencoba memaklumi. Mungkin faktor usia, mungkin karena sudah terlalu terbiasa dengan jalanan, atau mungkin karena tuntutan ekonomi yang membuat beliau ingin cepat sampai agar bisa segera mencari penumpang berikutnya.

Setiap kali naik motor bersama beliau, tubuh saya sering kali menegang tanpa sadar. Tangan mencengkeram lebih erat, mata awas memperhatikan jalan, dan napas tertahan setiap kali motor melaju agak kencang. Meski saya pernah berkata agar berhati-hati, namun tetap saja terus berulang. Akhirnya saya memilih diam, berdoa dalam hati dan berharap semuanya akan baik-baik saja.

Hari demi hari, minggu demi minggu, rasa waswas itu tidak juga hilang. Justru semakin sering saya naik, semakin besar pula kecemasan yang saya rasakan. Saya mulai bertanya pada diri sendiri: sampai kapan saya bisa terus memaklumi? Apakah rasa kasihan harus selalu mengalahkan rasa aman?

Saya sadar, keputusan untuk terus naik motor bersama bapak tua itu bukan hanya soal kebiasaan, tetapi juga soal empati. Saya tahu, bagi beliau, setiap penumpang adalah rezeki. Setiap perjalanan berarti tambahan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dalam benak saya, ada bayangan tentang keluarga beliau di rumah, tentang kebutuhan sehari-hari yang harus dipenuhi. Bayangan itu membuat saya terus menahan diri untuk tidak berpindah ke ojek yang lain.

Namun, hidup sering kali memaksa kita untuk berhadapan dengan pilihan. Pilihan di mana saya menyadari bahwa keselamatan tidak bisa terus dinegosiasikan. Bahwa satu keputusan kecil bisa berdampak besar, bukan hanya bagi saya, tetapi juga bagi orang-orang yang menunggu saya pulang.

Akhirnya, dengan perasaan yang campur aduk, saya memutuskan untuk berhenti naik motor bersama bapak tua itu. Keputusan ini tidak diambil dengan ringan. Ada rasa bersalah, ada rasa tidak enak, ada kekhawatiran tentang bagaimana perasaan beliau. Namun, ada pula kelegaan kecil yang muncul bersamaan. Sebuah kesadaran bahwa menjaga diri sendiri bukanlah bentuk keegoisan, melainkan tanggung jawab.

Saya tidak pernah secara langsung mengatakan untuk berhenti menggunakan jasanya. Saya hanya berusaha menghindar. Ketika beliau biasa menunggu di pintu keluar, saya menyelinap melalui pintu masuk dengan meminta izin petugas check in terlebih dulu. Perpisahan yang sunyi, tanpa konflik, tanpa kata-kata. Mungkin bagi beliau, saya hanyalah salah satu penumpang yang datang dan pergi. Tetapi bagi saya, keputusan itu meninggalkan jejak ingatan yang cukup dalam.

Dari pengalaman sederhana ini, saya belajar banyak hal tentang hidup sebagai penglaju. Tentang bagaimana rutinitas tidak selalu datar, tetapi penuh dengan cerita kecil yang membentuk cara kita memandang dunia. Tentang bagaimana empati dan batasan sering kali berada di garis yang sangat tipis. Kita ingin peduli, tetapi juga harus tahu kapan berhenti.

Saya juga belajar bahwa tidak semua keputusan harus disertai penjelasan panjang. Ada kalanya kita hanya perlu jujur pada diri sendiri, meski harus menerima rasa tidak nyaman. Hidup tidak selalu hitam dan putih. Banyak pilihan berada di area abu-abu, tempat kita harus menimbang dengan hati dan akal sekaligus.

Kini, setiap kali naik ojek lain, ingatan tentang bapak tua itu masih sesekali muncul. Tentang senyumnya, tentang sapaan singkatnya, tentang perjalanan-perjalanan yang pernah kami lalui bersama. Saya berharap beliau selalu diberi kesehatan dan keselamatan. Saya berharap rezekinya tetap mengalir, meski bukan lagi dari saya. Maafkan saya ya Pak…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Iseng-Iseng ke Cianjur Naik Kereta Api...

Transformasi Kereta Api Yang Membuat Saya "Sedih"

Curhat Istri Tetangga