Sepenggal Kisah Alih Tugas: Lebih Dekat, Namun Terasa Jauh
Ada hal-hal dalam hidup ini yang kadang sulit dijelaskan dengan matematika. Salah satunya: mengapa sesuatu yang secara jarak lebih dekat, justru terasa bertambah jauh?
Secara teori, urusan perjalanan itu sederhana. Enam puluh kilometer tentu lebih dekat daripada seratusan kilo lebih. Dua jam perjalanan jelas lebih ringan dari empat jam. Namun, kehidupan sehari-hari ada kalanya tidak mau tunduk pada angka-angka di atas kertas.
Semua ini bermula ketika surat keputusan itu datang. Saya dipindahtugaskan ke tempat yang—kalau dilihat di peta—jauh lebih dekat dari rumah.
Awalnya saya tersenyum lega. Membayangkan sesuatu yang ideal: jarak lebih pendek, waktu tempuh berkurang, ongkos makin hemat. Pulang-pergi terasa jauh lebih masuk akal.
Namun, di situlah kerumitannya.
Jika ada kendaraan pribadi yang menganggur di garasi, masalah ini selesai seketika. Tinggal starter mesin, lalu berangkat. Naik mobil nyaman, naik motor praktis meskipun lebih menguras energi. Apalagi untuk senior seperti saya yang usianya telah beranjak di kepala lima. Belum lagi ketika musim hujan tiba.
Masalahnya, di rumah tidak ada mobil. Motor pun hanya ada satu, dan itu bukan sepenuhnya “milik saya”. Motor itu hak anak untuk pergi sekolah.
Maka, muncullah pertanyaan sederhana, namun dampaknya rumit: motor dipakai siapa?
Jika saya membawanya ke kantor, anak saya harus memutar otak mencari cara ke sekolah. Jika dipakai anak, saya yang harus berjuang menuju tempat kerja. Di titik inilah, sebiji sepeda motor yang biasanya kita anggap barang biasa, mendadak berubah menjadi aset yang teramat berharga.
Pilihan berikutnya tentu angkutan umum. Bus mini antar kota. Teguh, Cebong Jaya adalah beberapa nama legenda bus yang melayani jalur ke tempat tugas saya.
Teorinya kembali terdengar gampang: keluar rumah, cegat kendaraan, naik, bayar, turun, sampai. Tapi realitas jalanan tak pernah seindah petunjuk peta digital. Angkutan umum memiliki satu tabiat dasar yang menuntut kesabaran ekstra: kita tak pernah bisa betul-betul mengatur waktunya.
Kita bisa menentukan kapan harus melangkah keluar pintu rumah, tapi kita tidak bisa memesan kapan armada akan melintas. Kita bisa menghitung jarak kilometer, tapi tak pernah bisa menebak berapa lama harus berdiri menunggu di pinggir jalan.
Apalagi jika rutenya menuntut berganti-ganti kendaraan. Naik angkot, turun di persimpangan, menunggu angkutan kedua, naik lagi, turun lagi, lalu menyambung jalan kaki di bawah terik matahari.
Belum lagi tabiat angkutan yang berhenti bukan karena macet atau lampu merah, melainkan karena mengetap penumpang. Satu menit di sini, dua menit di sana. Bagi pengemudi, itu rezeki. Tapi bagi penumpang yang dikejar jam masuk kantor, kumpulan menit-menit kecil itu merayap menjadi puluhan menit yang menguras dada.
Jarak yang di peta terlihat dekat itu akhirnya membentang makin panjang. Bukan karena jalannya yang menjauh, melainkan karena kepastiannya yang melenyap.
Ada perbedaan besar antara perjalanan jauh dan perjalanan yang tidak pasti.
Pada perjalanan jauh yang waktunya terukur, kita masih bisa menyiapkan mental. Berangkat jam enam, sampai jam delapan. Jelas. Kita bisa menyiapkan bekal kopi, mendengarkan musik, atau sekadar memejamkan mata sejenak.
Namun perjalanan yang tidak pasti memaksa pikiran terus bekerja tanpa henti: Jam berapa harus jalan? Bagaimana kalau bus tak kunjung lewat? Bagaimana kalau terlambat?
Pertanyaan-pertanyaan kecil itulah yang diam-diam menyedot energi melebihi fisik perjalanan itu sendiri. Tempat kerja yang secara geografis lebih dekat, justru terasa “jauh”.
Sebuah tempat bisa berjarak dekat, namun terasa di ujung dunia ketika pilihan transportasinya terbatas. Sebaliknya, tempat yang berjarak belasan kilometer lebih jauh bisa terasa “dekat” jika memiliki jalur transportasi yang rutin, jelas, dan tepat waktu.
Memang, membeli kendaraan tambahan bisa jadi jawaban instan. Namun kendaraan bukan sekadar dibeli seperti membeli gorengan di tepi jalan. Ada cicilan, pajak, bahan bakar, biaya servis, hingga penggantian suku cadang yang terus membayang setelah ia parkir di rumah. Menyelesaikan satu masalah transportasi sering kali justru melahirkan persoalan finansial yang baru.
Pengalaman ini mengajarkan saya satu hal: kita mungkin terlalu dangkal memaknai kata “dekat”.
Jangan Cuma mengukur jarak dengan satuan kilometer. Ukurlah dengan waktu tempuh. Ukur dengan tingkat kepastian. Ukur dengan berapa kali kita harus berganti tumpangan, berapa lama kita membuang waktu untuk menunggu, dan seberapa banyak pilihan cadangan yang kita punya saat rencana utama berantakan.
Pada akhirnya, masalah saya bukanlah lokasi kantor yang jauh. Kantornya justru sudah lebih dekat dari sebelumnya.
Yang jauh adalah aksesnya. Yang jauh adalah kepastian waktunya. Yang jauh adalah pilihan-pilihan untuk mencapainya.
Sebab yang dekat di peta, belum tentu dekat di perjalanan. Dan yang jauh di peta, tak akan pernah terasa berat jika kita tahu pasti bagaimana cara untuk pulang dan pergi. Dan kini, akhirnya saya kembali ke pilihan PJKA lagi. Entah nanti.....

Komentar
Posting Komentar