Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2026

Tiga Alasan Mengapa Saya Wajib Punya Kendaraan Bermotor Pribadi

Gambar
Di negeri ini, memiliki kendaraan bermotor pribadi sering kali terasa seperti tanda naik kelas -- setidaknya satu tingkat. Ia bukan lagi sekadar alat bantu mobilitas, melainkan sudah menjelma menjadi kebutuhan yang dianggap mendasar, sejajar dengan pangan, sandang, dan papan. Ketika seseorang belum punya kendaraan, pertanyaan yang muncul biasanya bukan “mengapa?”, melainkan “kok bisa?”. Disampaikan dengan nada heran bercampur iba, seolah-olah ada yang kurang dari hidup yang dijalani. Pengalaman saya berbeda dengan di masa lalu. Pada era 1980–1990-an, saat masih duduk di bangku SMP hingga SMA, sepeda adalah andalan saya untuk beraktivitas di dalam kota. Ia juga menjadi teman setia berolahraga bersama dua kawan yang rumahnya tidak berjauhan. Kebiasaan bersepeda itu, kalau jujur, bukan karena kesadaran akan lingkungan atau kesehatan. Alasannya sederhana: soal biaya. Jika jarak yang ditempuh cukup jauh atau rasa malas datang, barulah saya beralih ke angkutan kota. Untuk tujuan yang lebih p...

Bau Sampah Bikin Gundah

Gambar
Setelah sekian lama tutup, warung kopi alias cafe di dekat rumah beroperasi kembali. Awalnya tidak terlalu banyak pelanggan yang datang. Tapi akhir akhir ini terlihat selalu ramai. Wajah wajah anak muda, kemungkinan mahasiswa, hampir selalu memenuhi kursi yang tersedia. Mungkin harganya terjangkau. Mungkin rasanya sesuai selera. Atau tempatnya yang cocok buat kumpul kumpul, rapat, atau sekedar menikmati makanan dan minuman yang tersedia. Mungkin juga karena ada live musiknya. Atau wifinya. Bisa juga karena buka 24 jam non stop. Cocok buat mahasiswa yang dikejar deadline tugas dan gampang ngantuk kalo mengerjakan di kos. Yang pasti, saya belum pernah menikmati makanan atau minuman di tempat itu. Imbasnya, sampah yang semula cukup ditampung box sampah ukuran jumbo, sekarang sudah tidak muat lagi. Akhirnya, di sudut jalan belakang cafe seperti tempat pembuangan sampah sementara. Setiap hari, ada ritual tak tertulis yang harus dilakoni oleh siapa saja yang lewat di jalan itu. Termasu...

Terima Kasih Bapak Yang Baik

Gambar
Beberapa hari lalu,  Jumat pagi Sebelas September, saya menerima kabar duka. Istri paman meninggal dunia. Kabar seperti itu selalu membuat hati terdiam sejenak. Ada rasa kehilangan, meskipun saya mungkin jarang bertemu. Apalagi bagi paman, kehilangan pasangan hidup tentu bukan perkara sederhana. Apalagi setelah sekian puluh tahun mendampingi. Ada rumah yang tiba-tiba terasa lebih sepi, ada rutinitas yang mendadak berubah, dan ada sosok yang biasanya hadir setiap hari, kini tak lagi bisa ditemui. Sayangnya, saya tidak bisa langsung datang melayat. Saat kabar itu datang, saya sedang mendapat penugasan ke luar kota. Baru dua hari kemudian saya punya kesempatan untuk datang. Minggu sore. Kebetulan sekarang saya bertugas di kota ini, Banjarnegara. Saya berangkat sendiri ke rumah paman yang terletak di pinggir timur kota Banjarnegara. Tidak membawa kendaraan bermotor, karena memang tidak ada. Kali ini, transportasi online alias ojol menjadi andalan. Sesampainya di rumah paman, suasana du...