Terima Kasih Bapak Yang Baik
Kabar seperti itu selalu membuat hati terdiam sejenak. Ada rasa kehilangan, meskipun saya mungkin jarang bertemu. Apalagi bagi paman, kehilangan pasangan hidup tentu bukan perkara sederhana. Apalagi setelah sekian puluh tahun mendampingi. Ada rumah yang tiba-tiba terasa lebih sepi, ada rutinitas yang mendadak berubah, dan ada sosok yang biasanya hadir setiap hari, kini tak lagi bisa ditemui.
Sayangnya, saya tidak bisa langsung datang melayat. Saat kabar itu datang, saya sedang mendapat penugasan ke luar kota. Baru dua hari kemudian saya punya kesempatan untuk datang. Minggu sore. Kebetulan sekarang saya bertugas di kota ini, Banjarnegara.
Saya berangkat sendiri ke rumah paman yang terletak di pinggir timur kota Banjarnegara. Tidak membawa kendaraan bermotor, karena memang tidak ada. Kali ini, transportasi online alias ojol menjadi andalan.
Sesampainya di rumah paman, suasana duka masih terasa. Saya mencoba tidak terlalu banyak membicarakan kehilangan. Sesekali kami berbincang tentang hal-hal ringan. Tentang rutinitas harian, kabar keluarga, cerita masa lalu, pohon durian yang mulai berbunga, dan hal-hal kecil lainnya yang sebenarnya tidak terlalu penting.
Namun mungkin justru itu yang dibutuhkan.
Kadang orang yang sedang berduka tidak selalu membutuhkan nasihat panjang. Tidak selalu membutuhkan kata-kata bijak. Barangkali cukup ada orang yang datang, duduk di sampingnya, lalu mengajaknya berbicara tentang apa saja.
Setidaknya, untuk beberapa saat, pikirannya tidak hanya tertuju pada kehilangan.
Waktu berjalan tanpa terasa. Setelah maghrib, saya berpamitan untuk pulang.
Kali ini saya kembali mengandalkan ojol.
Saya berjalan menyusuri jalan kampung beberapa puluh meter sampai di tepi jalan besar. Saya berdiri di depan kios. Ada kios mie ayam, yang bersebelahan dengan apotek. Kemudian jari jemari membuka aplikasi ojol, lalu mencoba memesan.
Saya menunggu. Tidak ada yang masuk.
Saya coba lagi.
Masih tidak ada.
Percobaan ketiga pun sama.
Padahal jaraknya tidak terlalu jauh dari kota. Tetapi entah mengapa malam itu tidak ada pengemudi yang mengambil pesanan saya.
Saya mulai berpikir, mungkin harus berjalan lebih dulu ke tempat yang lebih ramai. Atau mungkin mencari alternatif kendaraan lain. Tapi kalo sudah malam begini, bus medium antar kota sudah tidak lagi ada.
Saat sedang bingung itulah, tiba-tiba seorang bapak menghampiri.
"Sedang menunggu siapa, Pak?"
Saya menjawab apa adanya.
"Menunggu ojol, Pak. Tapi belum dapat."
Saya kira percakapan itu selesai sampai di situ.
Ternyata tidak.
Bapak tersebut kemudian melihat ke sekitar, lalu mengatakan akan mencarikan ojek pangkalan untuk saya.
Saya sempat terdiam.
Saya tidak meminta tolong.
Saya bahkan tidak mengenal beliau dan baru bertemu beberapa menit.
Tetapi beliau dengan begitu saja menawarkan bantuan. Tidak banyak bertanya. Tidak meminta apa-apa. Tidak menunjukkan bahwa dirinya sedang melakukan sesuatu yang istimewa.
Beliau hanya mencoba membantu seseorang yang mengalami kesulitan.
Tak lama kemudian, beliau mendapatkan seorang tukang ojek pangkalan yang bersedia mengantar saya pulang. Tukang ojek yang sekilas lebih tua dari saya namun masih terlihat kuat. Saya tanya tarifnya berapa, beliau menyerahkannya ke saya. Saya galau.
Meskipun, akhirnya saya bisa pulang dengan tenang.
Sepanjang perjalanan, saya justru teringat pada kejadian sederhana tadi.
Hari itu sebenarnya saya datang karena sebuah kabar duka. Saya datang untuk menguatkan paman yang sedang kehilangan istrinya. Tetapi ketika hendak pulang, justru saya yang mendapatkan sebuah penguatan dari orang yang bahkan tidak saya kenal.
Seorang bapak yang mungkin - pasti tidak tahu siapa saya.
Tidak tahu dari mana saya datang.
Tidak tahu pekerjaan saya apa.
Tidak tahu apakah kami akan bertemu lagi atau tidak.
Ia hanya melihat seseorang sedang kesulitan, lalu memilih untuk membantu.
Sesederhana itu.
Dan mungkin memang begitu bentuk kebaikan yang paling tulus. Tidak selalu hadir dalam sesuatu yang besar. Kadang hanya berupa pertanyaan sederhana:
"Sedang menunggu siapa, Pak?"
Lalu dilanjutkan dengan tindakan kecil:
"Biar saya carikan ojek."
Saya tidak tahu nama bapak itu. Saya juga tidak tahu apa yang membuatnya mau repot-repot membantu orang asing pada malam hari.
Tetapi saya tahu satu hal.
Saya akan berusaha mengingat kebaikan itu.
Sebab malam itu saya belajar lagi bahwa di tengah kabar kehilangan, selalu ada hal kecil yang mengingatkan kita bahwa negeri ini belum kehilangan orang-orang baik.
Paman kehilangan orang yang sangat dicintainya.
Saya datang untuk menemani kesedihannya.
Namun dalam perjalanan pulang, saya justru mendapatkan hadiah kecil dari kehidupan: sebuah perjumpaan singkat dengan orang baik.
Mungkin kita tidak selalu bisa membalas kebaikan seseorang.
Kadang kita bahkan tidak tahu bagaimana cara menemukannya kembali.
Walaupun mungkin bahkan akan terlupa.
Tidak apa-apa.
Semoga kebaikan itu menemukan jalannya sendiri.
Dan semoga, suatu hari nanti, ketika kita melihat orang lain sedang kesulitan, kita juga teringat pada seseorang yang pernah membantu kita tanpa diminta.
Lalu kita melakukan hal yang sama.
Menjadi orang baik.
Tanpa banyak alasan.
Tanpa berharap dikenal.
Tanpa menunggu balasan.
Terima kasih, Pak.
Saya mungkin tidak tahu nama Bapak. Bahkan saya terlupa dan tidak sempat mengucapkan terima kasih kepada Bapak.
Tetapi malam itu, Bapak telah menjadi salah satu alasan saya pulang dengan hati yang lebih ringan.
Dan lebih ajaib lagi setelah sampai. Saya menyerahkan selembar uang, kemudian bapak tukang ojek mengucapkan terima kasih berkali kali. Seolah baru mendapatkan durian runtuh. Padahal seharusnya sayalah yang lebih layak mengucapkan terima kasih. Bapak penyelamat saya dari terdampar di suatu tempat tanpa kejelasan.
Siapa sangka, ternyata, masih ada orang baik di sini.
Terima kasih, bapak bapak yang baik.

Komentar
Posting Komentar