Bau Sampah Bikin Gundah

Setelah sekian lama tutup, warung kopi alias cafe di dekat rumah beroperasi kembali. Awalnya tidak terlalu banyak pelanggan yang datang. Tapi akhir akhir ini terlihat selalu ramai. Wajah wajah anak muda, kemungkinan mahasiswa, hampir selalu memenuhi kursi yang tersedia.

Mungkin harganya terjangkau. Mungkin rasanya sesuai selera. Atau tempatnya yang cocok buat kumpul kumpul, rapat, atau sekedar menikmati makanan dan minuman yang tersedia. Mungkin juga karena ada live musiknya. Atau wifinya. Bisa juga karena buka 24 jam non stop. Cocok buat mahasiswa yang dikejar deadline tugas dan gampang ngantuk kalo mengerjakan di kos. Yang pasti, saya belum pernah menikmati makanan atau minuman di tempat itu.

Imbasnya, sampah yang semula cukup ditampung box sampah ukuran jumbo, sekarang sudah tidak muat lagi. Akhirnya, di sudut jalan belakang cafe seperti tempat pembuangan sampah sementara.

Setiap hari, ada ritual tak tertulis yang harus dilakoni oleh siapa saja yang lewat di jalan itu. Termasuk saya. Bukan menundukkan kepala tanda hormat, bukan pula menyapa tetangga dengan senyum hangat, melainkan sebuah gerakan refleks yang sangat mekanis: mengambil napas dalam-dalam sejenak, lalu menahannya kuat-kuat sambil mempercepat langkah kaki.

​Gerakan itu bukan tanpa alasan. Tapi karena bau yang menyeruak, akibat tumpukan sampah yang meluap melampaui batas tempat yang disediakan. Plastik-plastik hitam saling menindih, kantong kresek warna-warni terobek disenggol kucing liar, dicabik cabik tikus dan cairan berwarna hitam keruh—yang baunya sanggup merusak suasana hati seharian—mengalir pelan membasahi tepi jalan.

​Sebagai warga biasa yang kebetulan masih punya indra penciuman yang berfungsi normal dan sedikit kepedulian yang tersisa, saya sering membatin: sejak kapan kita menjadi begitu toleran terhadap ketidaknyamanan sejijik ini?

​Gaya hidup masyarakat modern sering kali dipuja-puja karena serba praktis. Kita bisa memesan makanan via aplikasi, membeli barang tinggal klik, dan semua datang terbungkus rapi dengan berlapis-lapis plastik, bubble wrap, serta dus karton. Tapi ada satu hal yang lupa kita pelajari dari kepraktisan itu: ke mana semua sisa keindahan itu pergi setelah kita selesai bersenang-senang?

​Jawabannya sederhana: ke depan rumah orang lain, atau minimal ke sudut jalan kompleks.

​Di situlah ironinya. Kita sangat resik di dalam rumah sendiri. Keramik disapu tiap pagi dan sore, lantai dipel pakai cairan wangi jeruk purut, sofa disedot debunya sampai tak bersisa. Tapi begitu sampai pada urusan sampah, definisi "bersih" buat kebanyakan kita ternyata cuma sejauh lemparan tangan dari pagar rumah. Asal kantong sampah sudah keluar dari halaman, urusan dianggap tuntas. Soal kantong itu bakal menebar bau busuk seperti bangkai yang membusuk seminggu, itu urusan angin dan hidung orang yang lewat.

​Bau sampah yang berserakan ini sebenarnya punya karakter yang unik. Dia tidak cuma sekadar bau. Dia adalah racikan dari sisa makanan semalam yang basi, kulit buah yang membusuk, mungkin pampers bayi, dan kegetiran hidup yang berpadu jadi satu. Ketika disengat matahari siang yang terik, aromanya menguap dan merebut hak mengudara siapa saja yang berada dalam radius lima puluh meter.

​Kalau hujan turun? Wah, beda lagi ceritanya. Hujan yang bagi para penyair dianggap sebagai rahmat dan pemicu kenangan romantis, bagi kami adalah pemicu bencana aroma. Air hujan menyapu tumpukan itu, melarutkan segala jenis kotoran, dan mengalirkannya ke depan deretan rumah warga. Baunya bukan lagi menguap, tapi mengendap di udara, seolah-olah menempel di baju dan kulit siapa pun yang melintas.

​Tentu saja, seperti cerita-cerita tipikal di pemukiman warga pada umumnya, tumpukan sampah yang mengeluarkan bau semerbak ini tidak hadir tanpa drama sosial.

​Sering saya memperhatikan bagaimana tumpukan itu berbiak. Pagi hari, jumlahnya mungkin cuma tiga kantong. Siang hari, ada pengendara motor lewat yang melempar satu kantong lagi tanpa perlu menghentikan laju kendaraannya—sebuah ketangkasan bertransformasi jadi kebiasaan buruk. Sore hari, warga RT yang kebetulan lewat ikut menyumbang. Malamnya, giliran pedagang kaki lima atau orang asing yang entah dari mana ikut menaruh sisa makanannya di sana.

​Prinsipnya sederhana tapi mengerikan: “Lho, di situ udah ada sampah, berati boleh buang di situ dong?”

​Ini adalah bentuk nyata dari fenomena yang sering kita sebut broken windows theory versi kearifan lokal. Ketika satu area mulai terlihat kotor dan tak terawat, orang-orang akan merasa mendapat validasi moral untuk makin mengotorinya. "Toh, sudah bau ini," pikir mereka. "Satu kantong lagi enggak bakal bikin dunia kiamat."

​Lalu, apa yang dilakukan warga sekitar yang terdampak langsung oleh bau aduhai ini?

​Tentu saja: mengeluh di grup WhatsApp RT.


​Saling tuduh pun dimulai. Warga menyalahkan petugas kebersihan yang telat datang. Petugas kebersihan menyalahkan truk pengangkut kota yang tertahan di TPA. Pemerintah daerah menyalahkan keterbatasan anggaran dan lahan TPA yang overload. Dan kita semua menyalahkan angin yang bertiup ke arah rumah kita. Semua orang merasa jadi korban, dan tak satu pun yang mau merasa sebagai bagian dari sumber masalah.

​Mari kita jujur pada diri sendiri sejenak. Berapa banyak dari kita yang benar-benar memilah sampah dari dapur rumah sendiri?

​Jawabannya mungkin bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Kita masih menaruh sisa kuah gulai, plastik bekas minyak, popok sekali pakai, dan pecahan kaca dalam satu kantong plastik tebal yang sama, diikat kencang-kencang, lalu dibuang begitu saja. Kita membayangkan ada keajaiban yang terjadi di tempat penampungan akhir, seolah-olah ada peri yang bakal menyihir tumpukan campuran tak karuan itu jadi hal yang berguna secara instan.

​Padahal, bau busuk yang bikin kita mengeluh setengah mati itu justru tercipta dari kemalasan kita sendiri dalam memilah. Ketika sampah organik yang basah bercampur aduk dengan sampah anorganik dalam kondisi kedap udara di dalam kantong plastik, proses pembusukan anaerobik terjadi. Hasilnya? Gas metana dan amonia yang baunya sanggup membuat pusing kepala dan merusak selera makan.

​Kita menuntut lingkungan yang bersih, udara yang segar, dan fasilitas publik yang rapi sekelas kota-kota di Eropa. Tapi perilaku kita dalam mengelola sisa konsumsi sehari-hari masih mirip dengan manusia abad pertengahan yang melempar kotoran lewat jendela rumah. Kita ingin hasil akhirnya, tapi enggan menjalani prosesnya.

​Sering kali kita beralasan, "Ah, saya kan sudah bayar iuran kebersihan tiap bulan. Berarti tugas saya selesai."

​Uang lima puluh ribu atau seratus ribu rupiah yang kita bayarkan tiap bulan itu seolah-olah menjadi pembenaran dosa sosial. Seakan-akan dengan membayar nominal tersebut, kita membeli hak untuk bersikap acuh tak acuh pada apa yang kita hasilkan sendiri. Kita lupa bahwa petugas kebersihan itu adalah manusia yang punya hidung dan rasa lelah, bukan mesin penyedot ajaib yang tak bermoral. Mereka harus memilah tumpukan basah dan berbau itu dengan tangan telanjang atau sarung tangan seadanya, hanya karena kita terlalu malas untuk memisahkan sampah organik dan anorganik di rumah.

​Persoalan sampah yang bikin bau ini sebenarnya adalah cermin paling jujur dari wajah masyarakat kita hari ini. Di sana terpampang jelas bagaimana kita memandang ruang publik.

​Bagi banyak orang, ruang publik bukanlah milik bersama yang harus dijaga bersama, melainkan "area tak bertuan" yang bebas dieksploitasi dan dikotori. Pagar rumah adalah batas suci. Apa pun yang ada di dalam pagar harus steril, wangi, dan estetik demi konten Instagram. Tapi begitu melewati garis pagar, jalanan, selokan, dan sudut kompleks dianggap sebagai tempat sampah raksasa yang tak punya pemilik.

​Lihat saja sungai kecil di samping rumah saya. Ketika tempat sampah penuh, sungai kecil jadi pelampiasan yang dianggap praktis. Toh, kalau hujan airnya mengalir, pikir mereka. Nanti sampahnya terbawa entah ke mana. "Entah ke mana" ini biasanya berarti ke depan rumah tetangga di blok bawah, atau ke sungai yang akhirnya menyumbat pintu air dan memicu banjir saat musim hujan tiba.

​Nanti kalau banjir sudah meluap dan bau lumpur bercampur sampah masuk ke dalam ruang tamu, kita ramai-ramai bikin status di media sosial menyalahkan pemerintah yang dianggap tak becus mengurus saluran air. Kita ini memang juara bertahan dalam hal bersikap pura-pura amnesia atas dosa-dosa ekologis yang kita lakukan sendiri setiap hari.

​Lalu, sampai kapan kita mau terus-terusan hidup berdampingan dengan bau busuk dan sikap saling tuduh ini? Apakah kita harus menunggu sampai ada wabah penyakit kulit atau ISPA melanda anak-anak di kompleks baru kita mau bergerak?

​Penyelesaian masalah ini sebenarnya tidak butuh teknologi canggih tingkat tinggi atau seminar-seminar lingkungan hidup berbiaya mahal yang cuma menghasilkan tumpukan nasi kotak dan botol plastik baru. Yang kita butuhkan adalah sedikit rasa malu dan kemauan untuk menurunkan ego.

​Menjaga kebersihan lingkungan itu juga bukan cuma soal estetika visual agar kompleks terlihat rapi saat difoto. Ini adalah soal rasa hormat—menghormati tetangga yang tinggal di sebelah kita, menghormati petugas kebersihan yang bekerja keras saban hari, dan yang paling penting, menghormati diri kita sendiri sebagai manusia yang beradab.

​Besok pagi, saat Anda melangkah keluar rumah dan berniat melempar kantong plastik berisi sisa-sisa kehidupan Anda ke sudut jalan, coba tahan diri sejenak. Tengok tumpukan itu, hirup aromanya dalam-dalam, dan tanyakan pada diri sendiri: apakah kita memang pantas hidup di tengah-tengah bau busuk yang kita ciptakan sendiri, hanya karena kita terlalu malas untuk peduli?

​Kalau jawabannya adalah ya, maka selamat. Kita telah berhasil menurunkan standar kebahagiaan dan peradaban kita sendiri sampai ke level paling bawah: setara dengan tumpukan sampah yang tak berharga itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Iseng-Iseng ke Cianjur Naik Kereta Api...

Desain Rumahku Menggunakan Sweet Home 3D (2)

Desain Rumahku Menggunakan Sweet Home 3D (4)