Ban Bocor dan Tukang Tambal Ban
Bersepeda ke kantor setiap pagi. Di sinilah cerita saya dimulai.
Jarak dari rumah ke kantor hanya membutuhkan waktu sekitar… ya.. kurang lebih lima menitan dengan bersepeda. Jarak yang tidak terlalu jauh, tetapi cukup untuk menikmati udara pagi sebelum kesibukan dimulai. Tidak banyak yang perlu dipersiapkan. Tinggal bawa tas, siapkan sepeda dan naiki, lalu kayuh beberapa kali. Tak lama kemudian, gerbang kantor sudah terlihat di depan mata.
Pagi itu semuanya berjalan seperti biasa. Jalanan tidak terlalu ramai meski sudah menunjukkan jam 7 pagi. Udara terasa segar, sementara matahari belum sepenuhnya menampakkan diri. Roda sepeda berputar ringan, mengikuti irama kayuhan yang nyaris tanpa hambatan. Paling polisi tidur yang membuat sepeda tertahan karena harus mengurangi kecepatan. Karena yang saya lewati adalah jalan di pemukiman. Tidak ada kemacetan, tidak ada lampu merah yang harus ditunggu, apalagi keterlambatan.
Dengan jarak sedekat itu, rasanya hampir tidak mungkin ada persoalan berarti dalam perjalanan menuju kantor.
Tapi, di pagi itu, ternyata saya keliru.
Beberapa meter sebelum gerbang kantor, kayuhan mendadak lebih berat. Bahkan terasa oleng. Saya menoleh ke belakang sebelah bawah. Ban belakang terlihat kempes. Setelah memeriksa, saya menemukan seutas kawat serupa benang sudah tertancap. Benda kecil yang nyaris tidak terlihat namun cukup untuk mengubah pagi yang semula tenang menjadi sedikit merepotkan.
Saya tidak tahu dari mana kawat itu berasal. Yang jelas, benda kecil itu menggagalkan rencana sederhana saya: berangkat ke kantor seperti biasa dan memulai pekerjaan tanpa gangguan.
Sebenarnya, tidak ada kerugian besar. Toh kantor sudah di depan mata. Saya pun tidak perlu mencari kendaraan lain. Namun, tetap saja ada rasa sedikit kesal. Setelah ini pasti ada pekerjaan tambahan yang tidak masuk dalam rencana.
Begitulah manusia. Kita bisa menerima persoalan besar dengan berusaha berpikir panjang, tetapi terkadang kehilangan kesabaran hanya karena urusan kecil yang datang pada waktu yang dirasa tidak tepat.
Pekerjaan kantor berjalan sebagaimana mestinya. Kesibukan membuat persoalan ban bocor terlupakan. Namun, saat jam istirahat tiba, saya teringat kembali yang sempat terlupakan. Ya. Pada ban belakang sepeda yang telah kehilangan angin.
Saya pun menuntunnya ke bengkel tambal ban di ujung jalan pemukiman yang biasa saya lewati. Bengkel itu tidak besar. Tidak ada papan nama mencolok, apalagi ruang tunggu berpendingin udara. Hanya ada tempat kerja sederhana, beberapa perkakas yang telah menua, dan sebuah baskom agak lebar berisi air.
Seorang lelaki paruh baya menyambut saya. Setelah mendengar keluhan, ia segera memeriksa roda belakang dan mulai bekerja. Ban luar dicongkel, ban dalam dikeluarkan, dipompa, lalu dicelupkan ke dalam baskom. Gelembung-gelembung kecil terlihat muncul di satu titik.
Lubangnya kecil, tetapi cukup untuk membuat roda kehilangan daya cengkeram. Lelaki itu membersihkan bagian yang bocor, menyiapkan tambalan, lalu mengerjakannya dengan keterampilan yang barangkali telah ia ulang ribuan kali.
Sementara menunggu, saya mengamati keadaan sekitar. Bengkel itu terasa biasa saja. Orang datang membawa ban bocor, membayar jasa perbaikan, lalu pergi setelah kendaraannya kembali bisa digunakan.
Namun, saat itulah pikiran saya kembali kepada kawat kecil yang menancap di ban.
Saya datang ke bengkel itu karena mengalami kesulitan. Bagi saya, ban bocor berarti waktu yang tersita, pekerjaan tambahan, dan sedikit pengeluaran di luar rencana. Tetapi bagi lelaki yang sedang menambal ban di hadapan saya, kedatangan saya mungkin berarti sesuatu yang berbeda.
Barangkali sejak pagi ia telah menunggu pelanggan. Barangkali bengkel itu cukup lama sepi. Saya tidak tahu keadaan sebenarnya dan tidak berhak mengarang kisah hidupnya hanya dari penampilannya. Namun, satu hal dapat saya pahami: pekerjaan sederhana yang ia lakukan adalah bagian dari ikhtiarnya mencari nafkah.
Untuk beberapa menit itu, saya menjadi salah satu orang yang menggunakan jasanya. Saya datang membawa masalah kecil, ia membantu menyelesaikannya, dan pembayaran saya menjadi penghasilan dari keterampilannya.
Perjumpaan kami mungkin singkat, tetapi membuat saya memandang persoalan pagi tadi dengan cara yang berbeda.
Kita seringkali terbiasa melihat kesulitan dari sisi diri sendiri. Ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana, perhatian kita segera tertuju pada apa yang hilang, apa yang terganggu, dan apa yang harus dikorbankan.
Ban bocor membuat perjalanan terhambat. Kendaraan rusak membuat pengeluaran bertambah. Pekerjaan menjadi menumpuk dan membuat waktu istirahat berkurang.
Semua itu memang bisa merepotkan. Kesulitan tetaplah kesulitan. Ada kalanya ia melelahkan, membuat kecewa, bahkan menguji kesabaran. Kita tidak perlu menyangkal rasa berat itu atau memaksakan diri melihatnya sebagai sesuatu yang menyenangkan.
Namun, mungkin kita perlu sesekali berhenti pada satu pertanyaan sederhana: apakah kesulitan yang kita alami hanya membawa kesulitan bagi diri kita sendiri?
Pagi itu, sebuah kawat kecil membuat ban sepeda saya bocor. Siang harinya, seorang tukang tambal ban mendapatkan pekerjaan. Di antara dua kejadian sederhana itu, saya belajar bahwa tidak semua yang merepotkan kita harus berakhir sebagai keluhan, meskipun kerepotan itu tetap layak diakui sebagai kerepotan.
Sebab, kita tidak pernah benar-benar tahu kapan kesulitan kita menjadi jalan bagi kemudahan orang lain. Namun, kita juga tidak perlu memaksa setiap kesulitan untuk segera tampak manfaatnya. Ada hal-hal yang memang perlu dihadapi dengan sabar, dicari jalan keluarnya, dan bila perlu dibantu oleh orang lain.
Ada kalanya, setelah kesulitan selesai, yang tersisa bukan hanya masalah yang teratasi, melainkan juga hati yang sedikit lebih lapang dan cara pandang yang sedikit lebih luas.
Seperti ban sepeda yang kembali terisi angin, saya pun melanjutkan perjalanan. Namun kali ini dengan kayuhan yang terasa lebih ringan dan pikiran yang tidak lagi sama. Karena fokus tidak lagi pada sepeda, melainkan sesuatu di belakangnya.. ha .. ha ..

Komentar
Posting Komentar