Menepi, Ngopi, Membranding Instansi


Sore itu, sebenarnya lebih tepat dikatakan malam, rona warna kuning di langit sudah lama menghilang. Saya  meluncur bersama si Pinky, sepeda lipat kesayangan menuju ke salah satu toko roti di kota Wates. Lalu lintas masih ramai seperti biasa karena merupakan jalur utama lintas Purworejo – Wates – Yogyakarta. Saya yang bersepeda harus berjibaku dengan sepeda motor dan mobil. Bahkan juga dengan kendaraan besar seperti bus dan truk. Agar mereka bisa melihat saya dari jauh, saya pasang lampu kedap kedip di bagian belakang. Jangan sampai keberadaan saya tidak terlihat dan tiba-tiba mendapatkan ciuman. Bukan ciuman mesra tapi menyakitkan. Ciuman yang bisa membuat tubuh babak belur penuh luka. Bahkan mungkin “mematikan”. Semoga saya selalu dijauhkan dari hal buruk seperti itu.. Amin. 

Sesampainya di toko yang saya tuju, yang ada di selatan bank Mandiri Wates, sepeda saya parkirkan di dekat pintu masuk. Beres parkir  saya lantas berjalan mendekat, mendorong pintu dan masuk ke dalam toko. Seketika itu pula terdengar salam sapa dari kakak kakak penjaga toko. “Selamat malam... Silakan... “ demikian sapanya. Luar biasa! Kata orang, yang seperti ini merupakan salah satu bagian dari pelayanan yang baik. Terima kasih kakak-kakak yang ramah... Jadi pingin borong semua rotinya, tapi apa daya susah bawanya pakai sepeda.. 

Sejatinya, saya membeli roti bukan karena selera lidah yang telah berubah. Jejak utama memori rasa di lidah saya tetaplah makanan tradisional a.k.a. jajan pasar. Getuk, cenil, lopis, lapis, kueku, klepon, arem-arem, lemper, lumpia dan masih banyak lagi lainnya. Namun umumnya makanan tradisional tidak bertahan lama. Satu dua hari sudah menjadi basi. Sehingga karena pilihan kepraktisan dan ketahanan dalam penyimpanan maka roti dan kue kering menjadi alternatif pilihan. Umumnya roti bisa bertahan sampai dengan satu minggu. Kue kering bisa bertahan lebih lama lagi.  

Beberapa roti saya pilih, kemudian menuju kasir untuk melakukan pembayaran. Selesai pembayaran, saya berjalan menuju sepeda untuk melanjutkan perjalanan. Tujuan saya ke suatu lapak di seberang pasar Wates. Jaraknya relatif dekat dengan lampu lalu lintas di barat pasar Wates. Sebuah lapak kopi yang dijajakan menggunakan motor vespa. Bukan vespa matic keluaran baru, namun vespa keluaran lama yang kalau mogok ampun-ampunan mendorongnya. Berat. Soalnya saya pernah mengalaminya. Dulu... dulu banget... 

Lapak kopi ini telah saya lihat beberapa hari sebelumnya, ketika melintas di depan pasar Wates pada suatu malam. Lazimnya pedagang kopi keliling biasanya menggunakan sepeda untuk menjajakan dagangannya. Ini yang pernah saya lihat dulu di Jakarta. Sedangkan yang di sini, di kota kecil Wates, tidak biasa yaitu menggunakan Vespa klasik. Saya jadi penasaran. 

Sesaat hampir melintas, saya cukup beruntung. Lapak kopi yang saya incar ternyata sudah ada di posisinya. Saya segera menepi ke jalur kanan. Sepeda saya hentikan. Kemudian turun dari sepeda dan mulai berjalan di trotoar.  Sampai di lapak saya langsung menyapa kakak penjual kopi. Saya menanyakan menu yang tersedia. Kakak penjual kopi langsung menyodorkan selembar daftar menu. Ketika mata saya  masih menyusuri daftar menu, tiba-tiba lelaki yang semula duduk pada salah satu kursi tiba-tiba berdiri. Kemudian menginformasikan bahwa minuman yang tersedia adalah kopi dan teh. Karena mata yang mulai redup akhirnya saya memilih kopi. Kopi saring. Dia juga menanyakan apakah menghendaki kopi yang cenderung asam atau pahit. Saya memilih yang pahit supaya kuat bertahan dalam menjalani hidup yang pahit.. Karena hidup tidak selalu manis kan...? Ha.. ha.. 

Menunggu kopi siap, saya menuju kursi lipat yang telah disediakan. Kursi lipat ala ala kemping gitu. Ada 2 pasang kursi dan meja. Selain meja dan kursi, ada tempat lesehan juga. Dengan beralaskan tikar tentunya.  

Sepertinya, lelaki yang aktif bertanya tadi adalah ownernya. Saya perhatikan dia memberikan beberapa instruksi dan petunjuk kepada kakak yang saya sapa pertama kali tadi. Dia juga memperhatikan proses pembuatan minuman yang saya pesan. Mungkin untuk memastikan pembuatan kopi dilakukan sesuai petunjuk yang telah diberikan. Setelah selesai, dia sendiri yang mengantar minuman ke saya. Kemudian dia duduk di kursi yang berada di seberang meja saya.  

Sambil menunggu panasnya kopi mereda dan layak diminum, saya mengamati lalu lalang kendaraan yang melintas. Malam itu sepertinya cukup ramai. Cukup banyak kendaraan yang melintas di depan kami.  Ketika lampu lalu lintas berwarna merah, satu persatu kendaraan berhenti dan berbaris rapi. Sesekali saya mengalihkan pandangan ke layar HP. Barangkali saja ada notif transferan masuk. Siapa tau kan... Ah, ternyata cuma WA... 

Tiba-tiba terdengar suara mas di sebelah saya. Dia bertanya, apakah saya tadi lewat di jalan raya antar kota. Dia melihat sepeda dengan warna pink seperti warna sepeda saya. Saya membenarkan. Dan akhirnya obrolan terus mengalir, seperti mengalirnya kopi ke dalam mulut. Pelan. Ngopinya lima belas menit. Sedangkan ngobrolnya mungkin hampir empat puluh lima menit. 

Obrolan yang standar saja sebenarnya. Di mana tinggalnya. Asalnya dari kota apa. Kerja di mana. Sudah berapa lama. Nikah atau belum. Kalo sudah nikah terus merembet anaknya berapa. Sekolahnya... Dan seterusnya.  

Saya juga mengobrol terkait bisnis kopinya yang ternyata baru mulai beberapa bulan. Katanya sebagai usaha sampingan. Kerjaan utamanya adalah sebagai marketing di perusahaan IT. Setelah itu obrolan beralih ke soal kopi. Saya baru tahu kalo kopi yang saya minum berasal dari Temanggung. Jenis robusta. Agak pahit. Rasanya mirip kopi robusta Melung. Kopi yang dihasilkan dari sebuah desa di lereng gunung Slamet. Yang relatif dekat dengan domisili saya di Purwokerto. Soal rasa, saya sepertinya lebih suka kopi Gayo dan Mandailing yang ada di rumah. Tapi ini soal selera sih. 

Dan pastinya saya tidak mengobrol soal politik. Apalagi ekonomi yang katanya lagi sulit. Tapi mas penjual kopi bilang sekarang susah nyari kerja. Bahkan phk lagi marak terjadi. Termasuk salah satunya di pabrik wig yang ada di belakang kantor saya. Konon kabarnya ada 800 an pegawai yang diberhentikan karena sepi pesanan. Info dari mas nya sepertinya tidak keliru. Ini terkonfirmasi juga dari mba Dian. Siapa mba Dian? Mba Dian adalah pemilik warung nasi langganan saya yang lokasi warungnya ada di sebelah pabrik. 

Selanjutnya obrolan beralih ke pekerjaan dan instansi saya. Sebenarnya agak sedih dan miris menceritakan hal ini sih. Ketika menyebut nama instansi saya, orang akan bertanya. Itu kantor apa. Ternyata kantor saya tidak terlalu dikenal kebanyakan orang. Bahkan lokasinya. Salah satunya ya mas-mas penjual kopi ini. Padahal tempat tinggalnya relatif dekat dengan kantor saya. Dia juga sering melintas depan kantor. Depan kantor kami juga sudah di pasang papan nama. Di tembok luar sebelah barat yang berbatasan dengan sawah juga sudah dibuatkan letter nama kantor dan cukup terlihat jelas dari jalan raya. Sepertinya papan nama kantor saya masih kalah pamor dengan papan nama pabrik wig “Sung Chang” yang terpasang di samping kantor saya juga. Bahkan dia jauh lebih paham letak Dinas Perhubungan yang bersebelahan dengan kantor saya. Dibandingkan letak kantor saya.  

Lantas yang menjadi pertanyaan, pentingkah suatu instansi pemerintah dikenal di masyarakat?  

Menurut pendapat pribadi saya, instansi pemerintah – sebagaimana perusahaan – agar dikenal masyarakat, alangkah baiknya jika membangun brand “image” yang positif. Meskipun bikin sesuatu yang jelek juga akan dikenal. Malah mungkin lebih cepat viral. Sebagaimana lazimnya juga perusahaan, pastinya akan berusaha membangun brand atau merk yang kuat. Dengan brand yang kuat maka akan terbangun citra, keyakinan, jaminan kualitas dan prestise, sehingga perusahaan akan mudah diingat dan produknya akan menjadi pilihan konsumen.  

Pada instansi pemerintah, brand image positif bisa dibangun dengan penerapan zona integritas. Zona integritas adalah predikat yang diberikan kepada instansi pemerintah yang pimpinan dan jajarannya mempunyai komitmen untuk mewujudkan Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) / Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) melalui reformasi birokrasi, dalam hal pencegahan korupsi dan peningkatan kualitas pelayanan publik. Demikian pula instansi saya, yang sudah memperoleh predikat WBK. Dan saat ini sedang dalam proses penilaian menuju WBBM. Penilaian WBBM sendiri berada pada Kementerian PAN RB. Kami masih menunggu hasilnya. Saya yakin, keberhasilan dalam penerapan Zona Integritas WBK/WBBM akan membawa dampak positif tidak hanya kepada pengguna layanan kami yaitu kantor-kantor instansi pemerintah. Namun juga masyarakat pada umumnya, karena komitmen kami terhadap anti korupsi, anti gratifikasi dan pelayanan publik yang prima. Karena korupsi, gratifikasi dan pelayanan publik yang “amburadul” tentu akan sangat merugikan masyarakat. Dan kami tidak menginginkan hal itu.  

Untuk lebih mengenalkan instansi saya kepada masyarakat luas ada beberapa hal yang yang telah dilakukan. Pertama, sudah pasti adalah memasang identitas visual kantor secara mencolok di depan kantor. Bentuknya papan nama yang besar. Kami juga telah memasang banner besar keikutsertaan dalam penerapan WBBM. Diharapkan para pengendara yang melalui jalan depan kantor dapat melihat dengan jelas sehingga lebih mengenal instansi kami. Kedua, penggunaan media sosial dan website. Di era digital seperti saat ini, hampir setiap orang memiliki akses internet. Oleh karena itu, salah satu upaya paling efektif untuk meningkatkan branding instansi pemerintah adalah melalui pemanfaatan media sosial dan website. Kami telah hadir di berbagai platform media sosial seperti Facebook, Instagram dan YouTube. Melalui platform ini, instansi kami dapat menginformasikan berbagai layanan yang tersedia, memberikan pengumuman atau kebijakan terbaru, serta informasi lainnya. Ketiga, melaksanakan sosialisasi standar pelayanan instansi dalam bentuk forum komunikasi publik. Dalam kegiatan ini, peserta yang diundang adalah pengguna layanan, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, akademisi, organisasi masyarakat dan media massa. Setelah mengikuti forum ini, diharapkan peserta yang hadir dapat lebih mengenal layanan instansi kami yang prima dan menyebar luaskan ke masyarakat lainnya. Dan tentunya masukan untuk perbaikan layanan.  Keempat, pegawai berupaya dapat ikut secara aktif mengenalkan instansinya dalam setiap kesempatan. Salah satunya saya, dengan melakukan obrolan santai sambil ngopi. Meskipun hanya di pinggiran jalan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Naik Bus Yang Namanya Mengandung Doa, Tapi Hati Tetap Was-Was

Desain Rumahku Menggunakan Sweet Home 3D (1)